Posts tagged mom

unconditional love

Tapi Car. Aku masih nggak rela putus. Buat aku, cuma dia yang bisa sayang aku apa-adanya dan tanpa syarat!”. Begitu bunyi isi hati teman saya yang baru putus dengan pacarnya. Sebenarnya, “putus” bukan kata yang tepat karena pacarnya tuh tiba-tiba menghilang kaya ditelan bumi.

Well, panjang critanya dan terlalu personal untuk dibahas di blog ini. Even so, saya tertarik dengan statement dia yang “tanpa syarat” itu loh… Ya, cinta tanpa syarat, atau bisa dibahasakan “unconditional love“.

Apa seh “unconditional love” menurut kamu?

Kalau menurut saya, “unconditional love” adalah

  • Cinta yang tidak judgemental. Cinta yang tidak mempedulikan penampilan, perbuatan serta “label” yang menempel pada diri seseorang (eits.. bukan berarti cinta buta lo ya),
  • Rasa yang tumbuh bukan dari hasil “first gazing” dan
  • Bukan cinta yang tumbuh bukan dari hasil kebersamaan (dan saling mengenal) dalam waktu yang lama. Reason yang ketiga ini saya cantumkan karena ada teman saya yang berasumsi kalau cinta itu bisa tumbuh asal ada yang mau mencintai kita, even kita tidak cinta sama dia. Alias cinta itu bisa dipupuk. Miris sekali ketika cinta-tanpa-syarat disejajarkan dengan tanaman!

Sebenernya, masih banyak definisi unconditional versi saya, tapi yang paling dialektik dan bisa dibackup dengan argumen adalah yang empat itu.

Nah, lalu siapa yang biasanya mencurahkan “unconditional love” nya?. Untuk menjawab ini, saya telah mengadakan survey yang singkat tapi ekstensif, yang partisipannya tidak lain tidak bukan adalah teman-teman di contact list MSN dan Skype saya. Berikut hasilnya:

  • Tuhan = 35%
  • Orang tua = 30%
  • Pacar, suami =30%
  • Lain-lain = 5% (ada loh yang jawab “anjing”)

Tuhan di posisi pertama, yang menurut saya adalah hal yang tidak mengagetkan, berhubung mereka yang saya tanya tidak ada yang free-thinker. Dan mereka cukup diberi kehidupan yang indah dan berkecukupan oleh Dia. Tapi yang membuat saya radak kaget (gak kaget banget, karena gw ud expect) adalah suami, pacar dan orang tua yang mendapat suara yang sama banyaknya.

Nah lho. Koq bisa orang tua sama pacar, suami disejajarkan ya?. Well ada beberapa alasan kenapa beberapa teman saya memvote-down orang tuanya:

  • Dari usia belia, mereka sudah pisah rumah dengan orang tua mereka karena alasan edukasi atau simply gara2 orangtuanya bercerai.
  • Pada masa pencarian jati diri, yang intens disamping mereka adalah sang “pacar”. Jadi laughters and tears bukan dishare dengan orang tua, melainkan dengan si “pacar”.

Ehm. Fair enough kalau menurut mereka pacar dan suami mereka adalah unconditional lover. Tapi menurut saya, unconditional lover saya adalah keluarga saya, terutama papa dan mama. Belum pantas kalau pacar atau suami yang saya nominasikan jadi pecinta-tanpa-syarat karena saya belum punya pacar dan suami. However, kalaupun sudah menikah, mungkin (mungkin lho ya ini), Orangtua saya tetap akan ada di layer hati saya yang paling dalam dan paling sacred.

Kenapa orang tua saya?

  • Papa mama saya mencintai saya even sebelum papa mem-impregnated mama saya. Meaning that sebelum saya bahkan menjadi janin di perut mama saya.
    Cinta mereka mematahkan teori “first gazing” karena they have loved me even before they knew me.
  • Saya yakin mereka berdua akan tetep sayang saya walaupun saya telah melakukan hal yang dilarang di, paling tidak, 30 negara bagian. Just so you know, I did sth baaddd a while ago, but they opened their arms. That did not mean they spoiled me. But, they’ve taught me the best lesson in the world. Priceless.
  • Walaupun kita tidak tinggal dalam satu atap, saya masih dapat merasakan support dan sayang dari mereka melalui suara mereka ditelp atau pesan singkat dari mereka.

Dan alasan yang paling terakhir, yet paling penting adalah kata-kata “mantan”. Sebelum menikah pasangan-pasangan muda masa kini kan membuat prenuptial agreement atau perjanjian pra-nikah. Tujuannya? Ya sedia payung sebelum hujan lah. Kan kalau menikah bisa cerai, dan mereka bisa menambahkan kata2 “mantan” di depan kata2 istri dan suami. Menjadi mantan istri, mantan suami. Tapi nggak ada kan kata-kata “mantan anak”, “mantan ayah” atau even “mantan ibu”. Dan buat saya, hubungan ayah-anak-ibu sama saja dengan segitiga yang sacred dan unparalleled. Mereka boleh bilang: “Nothing is ever as it seems” tapi segitiga itu akan tetap disana dan last for ever.

Comments (6) »

On the eve of her 50

Mom means a lot to me. Perhaps, lots than the word “a lot” itself.

Mom is easy to spell M-o-m, but the word “mom” is indeed undefinable.

Mom is the person who always pops up in my inbox with message: “Cici, kemana aja?. Sudah seminggu g kasih kabar mama lho”.

Mom is my saviour when it came to choose flour for my “sizzling tofu”.(jadinya sizzling tofu saya radak mahal karena plus ongkos international call)

Mom dressed me while I was a kid, but giving up on me as I get mature.

Mom is the fussiest goddess about luggage. She wants everything to be folded neatly.

Mom makes my “mbak Pratik” iron my clothes too well, as I got so frustated with my-very-own ironing.

Mom has the best “sup merah” on earth.

Mom…

… I don’t dream to make her proud. But, I do dream to make her happy.

Happy 47th b’day, Mom.

Comments (2) »